Dinkes Bungo Targetkan Angka Stunting Turun Menjadi 16 Persen pada 2026

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo, dr. H. Safaruddin Matondang, M.PH., MH., Sp., KKLP., FISQua., CPCCP

FAKTA BUNGO –  Pemerintah Kabupaten Bungo melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat berbagai upaya untuk mencegah dan menekan angka stunting di Kabupaten Bungo. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa hingga keluarga.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo, dr. H. Safaruddin Matondang, M.PH., MH., Sp., KKLP., FISQua., CPCCP, mengatakan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dan dilakukan secara terintegrasi.

Safaruddin menjelaskan, prevalensi stunting di Kabupaten Bungo saat ini masih merujuk pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, yakni sebesar 20,4 persen.

Sementara berdasarkan hasil pemantauan pertumbuhan balita secara rutin di Posyandu yang tercatat dalam aplikasi SiGizi Kesga, terdapat 281 anak stunting dari 33.503 sasaran balita di Kabupaten Bungo.

“Penanganan stunting dilakukan secara bertahap dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa hingga keluarga,” ujar Safaruddin, Sabtu sore (12/9/2026).

Menurutnya, masih terdapat sejumlah wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan stunting. Kecamatan Rantau Pandan tercatat memiliki 37 balita stunting dari 959 sasaran balita.

Kemudian Kecamatan Tanah Tumbuh terdapat 38 balita stunting dari 1.356 sasaran, sedangkan Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas tercatat 33 balita stunting dari 2.256 sasaran balita.

Untuk menekan angka tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo menargetkan prevalensi stunting dapat turun menjadi 16 persen pada akhir 2026, sesuai dengan target dalam RPJMD Kabupaten Bungo.

Safaruddin menegaskan, pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika seorang anak telah mengalami masalah pertumbuhan. Upaya pencegahan juga dilakukan sejak masa remaja.

Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah. Dalam pemeriksaan tersebut dilakukan skrining anemia pada remaja, edukasi kesehatan serta pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri.

Pencegahan anemia pada remaja putri menjadi salah satu langkah dari hulu untuk mencegah terjadinya stunting di kemudian hari.

Dinkes Bungo juga menjalankan program Corong Stunting, berupa kampanye pencegahan stunting melalui radio dengan melibatkan dokter spesialis dan tenaga kesehatan lainnya.

Selain itu, terdapat GEPRAKES atau Gerakan Remaja Pranikah Menuju Sehat. Melalui program ini, calon pengantin mendapatkan konsultasi, penyuluhan kesehatan, skrining kesehatan dan imunisasi sebelum menikah.

Upaya penanganan stunting juga dilakukan melalui pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Program ini merupakan hasil kerja sama Puskesmas dan PKK di tingkat desa.

Sasaran pemberian makanan lokal tersebut meliputi ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis atau KEK, balita gizi kurang, balita dengan berat badan kurang serta balita yang berat badannya tidak mengalami kenaikan,” jelas Safaruddin.

Selain pemberian makanan tambahan, Dinkes Bungo melakukan rujukan balita ke Klinik Asuh Stunting. Pelayanan dan konsultasi diberikan kepada balita stunting untuk mendapatkan pemeriksaan serta pengobatan dari dokter spesialis anak.

Sementara bagi ibu hamil dan calon pengantin yang berisiko, pelayanan juga diberikan melalui dokter spesialis kandungan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bungo adalah CANTING BUNGO, singkatan dari Cegah Stunting Besamo Dampingi Balita Tidak Naik Berat Badan.

Program yang diluncurkan pada 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya percepatan penurunan stunting secara terintegrasi,” kata Safaruddin.

Pelaksanaannya mencakup pendampingan intensif bagi balita yang mengalami gangguan pertumbuhan, optimalisasi jaringan Posyandu, bantuan nutrisi bagi ibu hamil KEK serta kolaborasi lintas sektor.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo juga menghadirkan program Dokter Spesialis Masuk Dusun sebagai upaya mendekatkan pelayanan kesehatan spesialistik kepada masyarakat.

Program tersebut mencakup pemeriksaan, konsultasi, penegakan diagnosis, penatalaksanaan, edukasi hingga rujukan secara terpadu bagi masyarakat di wilayah dusun.

Program tersebut juga menjadi bagian dari penanganan balita stunting karena balita yang mengalami stunting perlu mendapatkan pemeriksaan dan konsultasi dari dokter spesialis anak sesuai pedoman yang digunakan Dinas Kesehatan.

Selain pelayanan dokter spesialis, Dinkes Bungo meningkatkan kemampuan kader Posyandu melalui pelatihan 25 keterampilan dasar.

Kader diharapkan mampu membantu melakukan penilaian pertumbuhan dan perkembangan balita, melakukan skrining sederhana menggunakan Buku KIA serta melakukan rujukan kepada tenaga kesehatan apabila ditemukan masalah,” ungkapnya.

Dinkes Kabupaten Bungo juga bekerja sama dengan Bapelkes Provinsi Jambi dalam pelatihan konselor menyusui bagi 60 tenaga kesehatan yang berasal dari Puskesmas, RSUD dan Pustu/Polindes.

Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan konseling menyusui sehingga dapat mendukung peningkatan capaian ASI eksklusif sebagai salah satu upaya pencegahan stunting.

Selain itu, Dinas Kesehatan melakukan pengadaan Buku KIA untuk memenuhi kebutuhan dasar pelayanan kesehatan ibu dan anak.

“Buku KIA digunakan sebagai media edukasi sekaligus sebagai rekam catatan kesehatan ibu dan anak. Pengadaan buku tersebut pada tahun anggaran 2025 tercatat sebanyak 6.866 buku,” jelas Safaruddin.

Dukungan pemenuhan pangan juga dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bungo.

Pada 2025, bantuan bahan pangan berupa beras, telur dan susu diberikan kepada 269 balita stunting.

Dinkes Bungo juga mengembangkan inovasi makanan tambahan melalui Cookies Centing.

Cookies tersebut merupakan biskuit inovasi Kabupaten Bungo yang dibuat menggunakan bahan dasar ikan lele dan daun kelor.

Pelatihan pembuatan Cookies Centing diberikan kepada kader desa dan PKK desa agar produk tersebut dapat dikembangkan sebagai salah satu makanan tambahan bagi balita di desa.

Untuk balita yang mengalami stunting, risiko gagal tumbuh, gizi kurang maupun gizi buruk, Dinkes Bungo juga menyediakan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK), suplemen dan multivitamin.

Pemberian PKMK dilakukan dengan pengawasan dokter spesialis anak. Kabupaten Bungo juga menyediakan PKMK sebanyak 310 kotak, serta suplemen dan multivitamin berupa sirup Fe dan vitamin D3 sesuai rekomendasi dokter spesialis anak,” terangnya.

Safaruddin menegaskan, ketika ditemukan balita yang terindikasi mengalami stunting, langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan rujukan untuk mendapatkan penanganan sesuai ketentuan.

“Balita yang terindikasi stunting berdasarkan pengukuran tinggi badan menurut umur akan mendapatkan rujukan ke dokter spesialis anak melalui program Dokter Spesialis Masuk Dusun maupun Klinik Asuh Stunting,” ungkapnya.

Selain pemeriksaan, balita juga dapat memperoleh PKMK untuk membantu memperbaiki asupan dan meningkatkan status gizi.

Pemberian vitamin dan mineral seperti vitamin D3 serta sirup Fe juga dilakukan sesuai resep atau rekomendasi dokter spesialis anak.

Penanganan stunting selanjutnya diperkuat melalui koordinasi lintas sektor bersama Tim Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) untuk menjalankan berbagai intervensi secara terpadu.

Dengan berbagai program tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan dari 20,4 persen menjadi 16 persen pada akhir 2026.

Upaya tersebut diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan dengan dukungan tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, keluarga dan seluruh masyarakat Kabupaten Bungo. (FB)