FAKTA BUNGO – Komunitas Teater Bhavana menyampaikan pernyataan sikap tegas terkait pemotongan karya teater berjudul Kasih Nan Abadi yang terjadi pada pembukaan Bungo Expo 2025. Mereka menilai tindakan tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap proses kreatif dan penghinaan terhadap martabat pelaku seni di Kabupaten Bungo.
Melalui rilis resmi yang diterima faktabungo.com, Teater Bhavana menolak keras penjelasan Kepala Bidang Kebudayaan, Hasbi Adi Firman, yang sebelumnya menyebut pemotongan karya tersebut sebagai bagian dari “penyesuaian teknis”.
“Kami menolak keras narasi ‘penyesuaian teknis’. Pemotongan karya Kasih Nan Abadi di panggung pembukaan Bungo Expo 2025 adalah bentuk pelecehan terhadap proses kreatif dan integritas seni yang telah kami bangun selama satu bulan penuh dengan pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya talangan pribadi,” tegas pernyataan itu.
“keterbatasan waktu pejabat” yang digunakan pihak Dinas Kebudayaan tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakan tersebut. Menurut mereka, penghentian karya seni di tengah pertunjukan merupakan bentuk ketidakhormatan terhadap seniman dan nilai-nilai kebudayaan itu sendiri.
“Seni bukan pelengkap acara! Seni adalah jiwa dan suara kebudayaan,” lanjut mereka dalam pernyataan resmi.
Dalam pernyataan sikapnya, Teater Bhavana menyampaikan tiga tuntutan utama kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Bungo, yaitu:
1. Audit dan Evaluasi Terbuka Secara Menyeluruh
Mereka mendesak agar dilakukan audit atas seluruh sistem penyelenggaraan acara budaya, termasuk proses kurasi, koordinasi teknis, dan pengambilan keputusan di lapangan yang berujung pada kerugian material maupun non-material bagi seniman.
2. Transparansi Anggaran dan Penggantian Kerugian Penuh
Teater Bhavana menuntut pembayaran penuh atas biaya yang telah mereka talangi, serta kompensasi atas kerugian non-material akibat rusaknya integritas karya dan reputasi komunitas. Selain itu, mereka meminta keterbukaan publik terhadap alokasi anggaran kegiatan budaya yang melibatkan komunitas seni.
3. Pembentukan Forum Dialog Permanen dan Partisipatif
Dinas Kebudayaan diminta membentuk ruang dialog resmi dengan komunitas seni lokal untuk menyusun SOP pelaksanaan kegiatan budaya yang menjamin keadilan dan penghormatan terhadap karya seni.
Kecaman juga datang dari Rully Novriyadi Putra, salah satu orang tua pemain Teater Bhavana. Ia menilai pernyataan Kabid Kebudayaan, Hasbi Affirman, mencederai semangat para seniman muda yang telah berjuang menampilkan karya terbaik mereka.
“Saya mengecam keras pernyataan Kabid Kebudayaan saudara Hasbi. Ini bentuk pelecehan terhadap hasil karya! Anda tidak mengerti nilai dan makna dari sebuah karya seni teater!” ujarnya dengan nada kecewa.
Teater Bhavana menegaskan, peristiwa ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah daerah dalam memperlakukan seniman lokal. Mereka menuntut adanya penghormatan dan perlindungan terhadap martabat pelaku seni, serta komitmen nyata untuk memperbaiki sistem kerja sama antara pemerintah dan komunitas kreatif di Kabupaten Bungo.
“Kami menuntut jawaban dan tindakan nyata, bukan sekadar klarifikasi retoris. Martabat pelaku seni daerah wajib dihormati dan dilindungi!” tutup pernyataan tersebut.(FB)





