Wamenag Dahnil Anzar: Asrama Haji Jambi Mangkrak, Bangunan Terjelek yang Pernah Saya Lihat,Tujuh Tersangka Kasus Asrama Haji Jambi

FAKTA JAMBI – Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, melontarkan kritik keras terhadap kondisi bangunan baru Asrama Haji Provinsi Jambi yang hingga kini terbengkalai dan tak kunjung dimanfaatkan. Ia menyebut bangunan tersebut sebagai bangunan terjelek yang pernah ia lihat, bahkan ditemukan akar pohon tumbuh di dinding gedung.

Hal itu disampaikan Dahnil saat melakukan kunjungan kerja sekaligus pengecekan langsung kondisi asrama haji di Jambi, Kamis (25/12/2025).

“Bangunan asrama haji kita ini di Jambi bermasalah, mangkrak. Coba bayangkan kerugian negara. Kalau catatan Kejaksaan itu sekitar Rp 11 miliar, tetapi sesungguhnya kerugian negara itu jauh lebih besar. Anggaran lebih dari Rp 30 miliar akhirnya mangkrak dan tidak bisa digunakan,” tegas Dahnil.

Dalam kunjungannya pada Rabu (24/12/2025), Wamenag Dahnil secara khusus menggandeng Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi untuk meninjau langsung aset-aset bangunan asrama haji yang bermasalah. Langkah ini dilakukan agar aset negara tersebut ke depan bisa dimanfaatkan kembali secara legal dan tidak menimbulkan persoalan hukum.

Saat pengecekan, Dahnil bersama Kajati Jambi Sugeng Hariadi tampak geram melihat kondisi bangunan yang sudah rusak parah dan terbengkalai selama bertahun-tahun.

“Ini luar biasa ya, saking mangkraknya bangunan ini sampai akar pohon tumbuh di dindingnya,” ujar Dahnil dengan nada kecewa.

Tak hanya bagian luar, kondisi di dalam gedung asrama haji juga sangat memprihatinkan. Ruangan dipenuhi debu tebal, sarang laba-laba, serta sampah yang berserakan, menandakan bangunan tersebut sudah lama tidak dirawat.

“Ini bangunan sejak 2017 berkasus dan akhirnya tidak bisa dimanfaatkan,” tambahnya.

Usai peninjauan, Dahnil menegaskan komitmennya untuk mendorong agar bangunan mangkrak tersebut dapat segera diperbaiki dan dimanfaatkan kembali secara maksimal untuk pelayanan jemaah haji dan umrah.

Ia menekankan bahwa integritas harus menjadi wajah utama Kementerian Agama.

“Sejak awal pesan Pak Presiden sangat jelas, Kementerian Haji dan Umrah harus menjadi simbol integritas. Wajah utama dari Kementerian Haji dan Umrah ini adalah wajah integritas,” ungkap Dahnil.

Hal senada disampaikan Kajati Jambi Sugeng Hariadi, yang secara terbuka mengaku prihatin dengan kondisi asrama haji tersebut.

“Saya tidak mau menutup-nutupi. Kalau saya bilang jelek, ya jelek. Bahkan di depan Pak Wamen saya sampaikan, ini luar biasa jeleknya,” tegas Sugeng.

Sugeng juga mengingatkan seluruh aparatur pemerintah daerah agar lebih teliti dan bertanggung jawab dalam mengelola anggaran negara, agar kejadian serupa tidak terulang.

“Jangan sampai sudah mau purna malah dipanggil jaksa. Bangunan mangkrak di depan kita ini menjadi contoh buruk yang tidak boleh kita ikuti,” katanya.

Diketahui, pembangunan Asrama Haji Provinsi Jambi dimulai pada tahun 2016 menggunakan anggaran APBN sebesar Rp 57,6 miliar. Bangunan lima lantai tersebut dirancang dengan fasilitas setara hotel bintang lima dan mampu menampung hingga 400 calon jemaah haji.

Namun, sejak 2017 proyek tersebut mulai bermasalah dan diusut oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jambi. Pembangunan sempat terhenti dan berlanjut kembali, namun tak pernah rampung hingga akhirnya menyeret tujuh orang tersangka.

Tujuh tersangka dalam kasus ini antara lain:

Tahir Rahman, mantan Kepala Kanwil Kemenag Jambi

Dasman, Staf Bidang Haji Kemenag sekaligus PPK

Eko Dian Iing Solihin, Kepala ULP Kemenag

Mulyadi, Direktur PT Guna Karya Nusantara Cabang Banten

Tendrsyah, pihak swasta selaku sub pengerjaan

Johan Arifin Muba, pemilik proyek

Bambang Marsudi Raharja, pemilik modal pembangunan

Hingga kini, bangunan asrama haji tersebut belum difungsikan akibat persoalan hukum dan pengelolaan aset yang belum tuntas.(**)