FAKTA BUNGO – Proses seleksi peserta Jambore Daerah (Jamda) Gerakan Pramuka yang diselenggarakan oleh Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Bungo menuai sorotan. Sejumlah pembina pramuka mempertanyakan transparansi dan objektivitas tim seleksi dalam menentukan peserta yang akan mewakili Kabupaten Bungo pada ajang Jambore Daerah yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Juni 2026 mendatang.
Isu dugaan ketidaktransparanan mencuat setelah beberapa pembina mengaku menemukan kejanggalan dalam hasil seleksi peserta. Salah seorang pembina pramuka berinisial SR mengungkapkan kekecewaannya lantaran terdapat perubahan nama peserta yang sebelumnya dinyatakan lolos seleksi, namun tidak tercantum lagi dalam daftar akhir peserta yang diberangkatkan.
Menurut SR, kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pembina maupun orang tua peserta. Pasalnya, sejumlah peserta yang sebelumnya dinyatakan memenuhi syarat dan lolos seleksi justru digantikan oleh nama lain tanpa penjelasan yang jelas.
“Anak didik kami sudah masuk dalam daftar peserta yang dinyatakan lolos. Namun saat pengumuman final, namanya berubah dan digantikan oleh peserta lain. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi proses seleksi,” ujar SR.
Selain itu, muncul pula informasi mengenai adanya ketimpangan jumlah peserta yang berasal dari sekolah tertentu. Berdasarkan informasi yang beredar, terdapat satu sekolah yang berhasil meloloskan hingga empat peserta sekaligus, sementara beberapa sekolah lainnya tidak mendapatkan kuota sama sekali.
Kondisi tersebut memicu protes dari sejumlah pembina yang menilai proses seleksi seharusnya memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta yang telah mengikuti tahapan seleksi secara resmi.
SR menduga terdapat campur tangan oknum tertentu dalam proses penentuan peserta yang lolos. Namun demikian, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut belum tentu diketahui oleh jajaran pimpinan Kwarcab Pramuka Kabupaten Bungo.
“Kami percaya Ketua Kwarcab tidak mengetahui persoalan yang terjadi di lapangan. Karena itu kami berharap beliau dapat turun tangan untuk mengevaluasi proses seleksi ini agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan,” katanya., Minggu siang (01/06/2026).
Para pembina dan orang tua peserta berharap adanya klarifikasi resmi dari panitia maupun Kwarcab Bungo terkait mekanisme seleksi yang digunakan. Mereka juga meminta agar seluruh hasil seleksi dievaluasi secara terbuka demi menjaga kredibilitas dan marwah Gerakan Pramuka di Kabupaten Bungo.
“Kami hanya ingin proses yang adil dan transparan. Anak-anak yang telah berjuang mengikuti seleksi harus mendapatkan haknya sesuai prestasi dan kemampuan yang mereka miliki,” tambah SR.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak panitia seleksi belum memberikan tanggapan resmi terkait berbagai tudingan yang berkembang. Ketua Tim Seleksi, Syafril, belum memberikan klarifikasi meskipun telah dihubungi melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp oleh awak media.
Pesan konfirmasi yang dikirimkan diketahui telah diterima, namun hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban maupun penjelasan resmi dari yang bersangkutan.
Media ini masih berupaya memperoleh keterangan dari Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Bungo maupun pihak terkait lainnya guna mendapatkan informasi yang berimbang mengenai polemik seleksi peserta Jambore Daerah tersebut.




