FAKTA BUNGO – Harapan masyarakat Desa Rantau Duku, Kecamatan Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, perlahan kembali terbangun setelah jembatan gantung yang menjadi akses utama warga mulai dibangun kembali oleh Kodim 0416/Bungo Tebo.
Jembatan gantung sepanjang sekitar 100 meter tersebut sebelumnya rusak dan hanyut akibat banjir besar yang melanda Sungai Batang Bungo pada tahun 2023. Kerusakan jembatan itu sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat, terutama para petani yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk membawa hasil perkebunan.
Selama jembatan tidak dapat digunakan, warga terpaksa menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko, sehingga aktivitas ekonomi desa menjadi terhambat.
Kini, melalui kepedulian TNI, pembangunan kembali jembatan tersebut menjadi simbol hadirnya negara di tengah kesulitan masyarakat.
Bagi masyarakat Desa Rantau Duku, jembatan gantung bukan sekadar penghubung dua wilayah, tetapi juga jalur utama distribusi hasil perkebunan seperti karet dan sawit.
Tanpa jembatan itu, aktivitas ekonomi desa berjalan tersendat karena warga harus memutar jauh untuk mengangkut hasil kebun.
Komandan Kodim 0416/Bungo Tebo, Letkol Inf Yudi Susanto Yudhanto, S.E., M.A.P, menegaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari komitmen TNI dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat di wilayah teritorial.
“Jembatan ini sangat vital bagi masyarakat, terutama dalam mendukung aktivitas ekonomi dan mobilitas warga. Kami optimistis pekerjaan ini dapat selesai tepat waktu sehingga masyarakat segera kembali menikmati akses yang aman dan layak,” ujarnya.
Saat ini, pembangunan jembatan gantung tersebut menunjukkan perkembangan signifikan. Berkat kerja keras personel di lapangan, progres pengerjaan telah mencapai sekitar 50 persen.
Capaian ini menjadi bukti keseriusan Kodim 0416/Bungo Tebo dalam mempercepat penyelesaian proyek agar masyarakat dapat segera memanfaatkan jembatan tersebut.
Untuk mempercepat proses pembangunan, personel Kodim 0416/Bungo Tebo bahkan melakukan pekerjaan hingga lembur.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapten Inf Saiful Anwar, Danramil 416-01/Rantau Pandan.
Siang hingga malam, para prajurit tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab demi memastikan pembangunan berjalan sesuai target.
“Personel bekerja maksimal, bahkan lembur, agar jembatan ini segera dapat digunakan masyarakat. Kami berkomitmen menyelesaikan pembangunan tepat waktu,” tegasnya.
Meski dikejar target waktu, seluruh proses pembangunan tetap mengutamakan kualitas konstruksi dan faktor keselamatan agar jembatan mampu bertahan menghadapi kondisi cuaca serta debit sungai di masa mendatang.
Pembangunan kembali jembatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat.
Datuk Rio atau Kepala Desa Rantau Duku, Seh Kholik, mengungkapkan rasa terima kasih atas kepedulian TNI terhadap warga desa.
“Jembatan ini adalah akses utama warga, khususnya para petani. Dengan dibangunnya kembali jembatan ini, aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah dan aman,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Bahtiar, salah satu petani setempat yang selama ini merasakan dampak langsung dari rusaknya jembatan tersebut.
“Dulu kami harus memutar jauh untuk membawa hasil kebun. Sekarang kami sangat terbantu. Ekonomi kami bisa kembali berjalan lancar,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur, jembatan gantung Desa Rantau Duku menjadi simbol nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Di atas jembatan itu kelak, tidak hanya kendaraan dan hasil perkebunan yang melintas, tetapi juga harapan, roda ekonomi, serta kehidupan sosial masyarakat desa.
Ketika jembatan tersebut rampung, yang terhubung bukan hanya dua sisi sungai, tetapi juga kepercayaan masyarakat kepada negara.
Dan di sanalah makna pengabdian itu berdiri kokoh.(**)





