FAKTA JAMBI – Dari Gelas ke Gejala: Mengupas Bahaya Alcohol Use
Disorder yang Sering Tak Kita Sangka
Bagi sebagian orang, minum alkohol dianggap pelarian sementara dari masalah yang sedang dialami. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa kebiasaan ini dapat berubah menjadi pola yang mengganggu hidup. Yang awalnya hanya satu gelas bisa berkembang menjadi kebutuhan yang sulit dihentikan. Inilah yang disebut Alcohol Use Disorder (AUD), gangguan penggunaan alkohol yang sering muncul tanpa disadari.
Apa Itu Alcohol Use Disorder?
Alcohol Use Disorder atau biasa disingkat dengan AUD bukan hanya sekadar suka minum saja. AUD terjadi ketika seseorang mengonsumsi alkohol berulang kali hingga menimbulkan masalah bagi kesehatan fisik maupun mental, hubungan sosial, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari.
Alcohol Use Disorder dikenali melalui sebelas tanda yang muncul dalam dua belas bulan terakhir, misalnya seseorang mulai minum lebih banyak atau lebih lama dari rencana, merasa sulit mengurangi meski sudah berusaha, dan menghabiskan banyak waktu untuk mencari alkohol, menggunakannya, atau memulihkan diri setelahnya. Ia dapat mengalami dorongan kuat untuk minum, mengabaikan tanggung jawab di rumah, sekolah, atau pekerjaan, serta tetap minum meskipun menimbulkan masalah dengan orang lain. Kegiatan penting yang dulu disukai bisa ditinggalkan karena minum menjadi prioritas, penggunaan alkohol dapat terjadi dalam situasi berisiko seperti saat mengemudi, dan seseorang mungkin tetap minum walaupun sadar bahwa alkohol memperburuk kondisi fisik atau emosionalnya. Gejala lainnya mencakup kebutuhan menambah jumlah alkohol agar efeknya terasa, serta munculnya gejala putus alkohol ketika penggunaan dikurangi atau dihentikan.
Mengapa Alkohol Bisa Sangat Adiktif?
Alkohol memicu rasa nyaman dan tenang dalam waktu singkat, terutama setelah hari yang melelahkan. Sensasi ini membuat otak merasa mendapatkan hadiah instan. Semakin sering seseorang mengulang perilaku ini, semakin kuat keinginan untuk kembali merasakannya.
Dalam jangka panjang, tubuh menyesuaikan diri dan membutuhkan jumlah yang lebih besar
untuk mendapatkan efek yang sama. Di titik inilah seseorang mulai kehilangan kendali tanpa sadar.
Apakah Alkohol Benar-benar Bisa Meredakan Stres?
Penelitian menunjukkan bahwa alkohol memang dapat membuat seseorang merasa lebih rileks sesaat setelah mengalami stres. Banyak orang merasakan ketenangan dalam sekitar satu Jam pertama setelah minum sehingga beban terasa sedikit lebih ringan. Namun, efek ini hanya sementara. Begitu pengaruh alkohol hilang, stres yang sebenarnya tidak benar-benar
pergi. Bahkan, bagi sebagian orang, stres dapat kembali dengan intensitas yang lebih berat,
terutama bila alkohol mulai dijadikan pelarian utama.
Graham, selaku konselor di Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa ketika seseorang
mengandalkan alkohol untuk mengatasi stres, kondisi tersebut justru dapat memperburuk
depresi dan kecemasan. Ia menambahkan bahwa meningkatnya konsumsi alkohol dapat
membuat seseorang terjebak dalam ruminasi, yaitu memikirkan hal-hal negatif berulang kali
yang pada akhirnya membuat kondisi emosional semakin tidak stabil.
Penelitian lain dari Pennsylvania State University dan wawancara terhadap individu yang
memiliki gejala AUD, menunjukkan bahwa orang yang minum untuk mengatasi stres
memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami masalah konsumsi alkohol dibanding mereka
yang minum untuk kepentingan sosial. Kesimpulannya, alkohol tidak menghilangkan stres,
melainkan alkohol hanya menundanya sambil menambah risiko baru.
Bagaimana Mengenalinya Lebih Dini?
Coba tanyakan tiga hal ini pada diri sendiri:
1. Apakah saya merasa sulit berhenti meski ingin?
2. Apakah saya butuh minum lebih banyak dari sebelumnya?
3. Apakah minum mulai mengganggu aktivitas dan hubungan saya?
Jika jawaban “ya” muncul bahkan pada satu pertanyaan, itu sudah menjadi tanda penting
untuk berhati-hati.
Lalu, Harus Bagaimana?
Kabar baiknya, Alcohol Use Disorder bisa ditangani. Salah satu langkah pentingnya adalah mengubah lingkungan dan komunitas sekitar. Berada di lingkungan yang lebih sehat, yang tidak mendorong kebiasaan minum atau tidak menjadikan alkohol sebagai pusat aktivitas, dapat membantu seseorang mengurangi dorongan untuk minum. Lingkungan sosial yang suportif dan berbagai aktivitas positif dapat mempermudah proses pemulihan.
Apabila penggunaan alkohol sudah mulai mengganggu emosi, pekerjaan, hubungan, atau terasa semakin sulit dikendalikan, mencari bantuan psikolog profesional sangat dianjurkan.
Konselor atau psikolog dapat membantu memahami akar masalah, memberikan strategi yang lebih tepat, serta mendampingi proses perubahan secara aman dan efektif. Mencari bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian untuk memulihkan hidup.
Alcohol Use Disorder sering berawal dari kebiasaan yang terlihat biasa, tetapi ketika alkohol mulai menjadi pelarian dari stres, tanda bahaya muncul. Penting untuk menyadari bahwa ada cara yang lebih sehat untuk menghadapi tekanan, mulai dari mengubah lingkungan hingga mencari dukungan orang-orang terdekat. Jika situasinya sudah terasa berat dan sulit dikendalikan, mencari bantuan psikolog profesional adalah langkah yang tepat. Semua orang berhak merasa lebih baik, dan meminta bantuan adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan.
Dibuat oleh Reno ishak nathanael, frankly juliston pane, muhammad caesar mumpuni




