FAKTA BUNGO – Kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026 berdampak serius terhadap layanan kesehatan masyarakat di Kabupaten Bungo. Sebanyak 65 ribu warga tercatat tidak lagi aktif sebagai peserta BPJS Kesehatan, sehingga terancam tidak bisa mendapatkan layanan berobat gratis.
Kondisi ini memicu keresahan di tengah masyarakat, terutama bagi warga kurang mampu dan para lansia yang sangat bergantung pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Banyak warga mengaku baru mengetahui status BPJS mereka non-aktif saat hendak berobat ke fasilitas kesehatan.
Rotna salah satu warga Dusun Sungai Mancur, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi mengungkapkan bahwa dirinya membawa orang tuanya yang sakit untuk berobat, namun pelayanan ditolak karena status BPJS sudah tidak aktif. Bahkan, keesokan harinya, status BPJS miliknya sendiri juga dinyatakan non-aktif.
- Klarifikasi Pernyataan di TikTok, Edi Kusnadi Tegaskan Tak Pernah Laporkan Klien ke Polda Jambi
- Didampingi Wakil Bupati, Dinas Sosial dan BAZNAS, Hj. Siti Alimah Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran di Sirih Sekapur
- Pemkab Bungo Dorong Regulasi WPR, Razia PETI Dinilai Belum Efektif
- DPRD Bungo Gelar Rapat Paripurna, Perubahan KUA dan PPAS APBD 2026 Disepakati
- WDP Berikan Klarifikasi Terkait Pemberitaan Investasi di Bungo, Kuasa Hukum Minta Semua Pihak Hormati Proses Hukum
- Atletico Madrid vs Real Madrid, Mourinho Kembali Berhadapan dengan Simeone
“Ini sangat mengejutkan kami. Orang tua kami sakit, tapi tidak bisa berobat karena BPJS mati. Kami ingin tahu apa solusi dari pemerintah daerah,” ujarnya., Jum’at sore (09/01/2026).
Pemerintah pusat diketahui melakukan penyesuaian anggaran di berbagai sektor pada tahun 2026, termasuk pengurangan alokasi untuk peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan yang dibiayai melalui APBD. Akibatnya, ribuan warga di daerah, termasuk Kabupaten Bungo, kehilangan akses layanan kesehatan gratis.
Data sementara menunjukkan sekitar 65.000 warga Bungo yang sebelumnya terdaftar sebagai peserta PBI kini statusnya tidak aktif.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Bungo segera mengambil langkah konkret agar masyarakat tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan. Mereka meminta adanya solusi, baik melalui penganggaran ulang di APBD, pendataan ulang warga tidak mampu, maupun koordinasi dengan pemerintah pusat.
“Kami minta pemerintah jangan tutup mata. Kesehatan masyarakat adalah kebutuhan dasar,” tegas seorang tokoh masyarakat.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan semakin banyak warga yang menunda pengobatan karena keterbatasan biaya. Hal ini bisa berdampak pada meningkatnya angka penyakit dan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat Kabupaten Bungo.
Pemerintah daerah diharapkan segera menyampaikan penjelasan resmi serta solusi agar masyarakat tidak menjadi korban kebijakan efisiensi anggaran.(FB)
Baca Terpopuler
- Klarifikasi Pernyataan di TikTok, Edi Kusnadi Tegaskan Tak Pernah Laporkan Klien ke Polda Jambi (230 views)
- KPKI Bungo Perkuat Fungsi Kontrol, DPRD Jadi Sorotan Utama (50 views)
- Didampingi Wakil Bupati, Dinas Sosial dan BAZNAS, Hj. Siti Alimah Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran di Sirih Sekapur (49 views)
- Dinkes Bungo Bersama Kodim 0416 Bute Bagikan 6.000 Masker kepada Pengguna Jalan (49 views)
- Sosok Edi Kusnadi Menguat Jelang Pilkada Bungo 2030, Ini Rekam Jejaknya di DPRD (48 views)
- Fantastis! CV Gading Cempaka Dapat Proyek Drainase Sungai Dingin Bungo Rp2,5 Miliar, Volume Pekerjaan Jadi Sorotan (48 views)
- Sayuti MLH: Fit and Proper Test Bungo Bukti Komitmen Menang Bersama Rakyat (48 views)
- Serka Rochani Dorong Usaha Bengkel Warga Kratonan Terus Berkembang (47 views)
- KBD Tahap IV Surakarta Diisi Penyuluhan Bela Negara, Kasdim Tekankan Pentingnya Persatuan (43 views)
- Cindy Monica Salsabila Dorong Bedah Rumah Warga di Lima Puluh Kota, Amanda Bermimpi Jadi Polwan (41 views)








