FAKTA BUNGO – Ratusan warga Dusun Sungai Beringin, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, menggelar aksi demonstrasi dengan menghentikan aktivitas mobil pengangkut batubara milik PT Khatulistiwa Makmur Persada (KMP), Jumat (19/9/2025). Aksi ini dipicu oleh kondisi jalan desa yang rusak parah dan licin, sehingga sulit dilalui, terutama saat hujan.
Menurut warga, jalan yang menjadi akses utama mereka ke pasar dan sekolah hancur akibat aktivitas truk batubara perusahaan. Akibatnya, aktivitas masyarakat terganggu, bahkan sejumlah pelajar terjatuh saat mencoba melintas.
“Awalnya kami hanya ingin ke pasar setiap Selasa, tapi tidak bisa lewat karena jalannya sangat licin. Beberapa warga dan anak-anak sekolah SMK yang nekat lewat malah terjatuh,” ungkap Arif, salah seorang pemuda Sungai Beringin, kepada wartawan.
Warga Tuntut CSR dan Perbaikan Jalan
Arif menjelaskan, sebelum menggelar aksi, masyarakat sudah lebih dulu menemui pemerintah dusun untuk meminta solusi. Namun, jawaban yang diterima membuat warga kecewa.
“Datuk Rio dan Ketua BPD malah bilang tidak tahu-menahu. Mereka hanya bilang kalau kami mau demo, terserah. Itu bukan urusan mereka,” kata Arif.
Tak putus asa, warga kemudian menemui pihak PT KMP secara baik-baik untuk meminta perbaikan jalan. Perusahaan sempat melakukan perbaikan, namun tidak tuntas.
“Padahal jalan yang rusak hanya dua titik saja. Karena tidak selesai, kami kembali mendatangi perusahaan dan menahan beberapa kunci alat berat. Kami juga menyampaikan tiga tuntutan,” jelas Arif.
Adapun tuntutan warga meliputi:
1. PT KMP diminta segera mengeluarkan program CSR (Corporate Social Responsibility) yang selama ini dinilai tidak pernah diberikan kepada masyarakat.
2. Lebih dari 30 persen tenaga kerja di PT KMP harus berasal dari warga Dusun Sungai Beringin.
3. Segera memperbaiki jalan rusak akibat aktivitas mobil batubara.
Rio dan Ketua BPD Mundur
Aksi warga yang semakin memanas akhirnya memaksa pemerintah dusun turun tangan. Pemerintah dusun kemudian mengundang ninik mamak, tokoh masyarakat, dan pemuda untuk memediasi pertemuan antara warga dan pihak perusahaan.
Namun, dalam pertemuan itu, warga justru semakin geram. Selain menagih komitmen PT KMP, mereka juga mempertanyakan sikap pemerintah dusun yang sebelumnya dinilai lepas tangan.
“Karena warga merasa kecewa, akhirnya mereka mendesak Datuk Rio dan Ketua BPD untuk mundur. Akhirnya, mereka bersedia menandatangani surat pengunduran diri di hadapan masyarakat,” ungkap Arif.(FB)




