Hingga 10 Februari, Polemik Jalan Tak Kunjung Usai, Warga Lorong Budidaya Siap Saling Pagar

Gambar : Masyarakat Lorong Budidaya, Kelurahan Cadika, Kecamatan Rimbo Tengah, Kabupaten Bungo

FAKTA BUNGO – Polemik akses jalan di Lorong Budidaya, Kecamatan Rimbo Tengah, semakin memanas. Jalan yang selama ini digunakan warga terlebih dahulu ditutup dengan pagar seng. Setelah itu, jalan dikupas dan dibongkar menggunakan alat berat jenis ekskavator. Aspal jalan tersebut kemudian dikeruk hingga kedalaman lebih kurang dua meter sehingga akses tidak lagi dapat dilalui.

Menurut keterangan warga, tindakan tersebut menimbulkan keberatan di tengah-tengah warga. Warga menyebutkan bahwa izin yang mereka ketahui sebelumnya hanya untuk pembuatan gorong-gorong, bukan untuk membongkar jalan. Warga menilai perbedaan antara izin yang diketahui dan kenyataan di lapangan telah memicu kekecewaan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Warga juga menyampaikan bahwa jalan di Lorong Budidaya telah ada puluhan tahun dan digunakan masyarakat sebelum berdirinya rumah pihak yang mengklaim kepemilikan lahan di lokasi tersebut. Fakta tersebut, menurut warga, menjadi alasan untuk mempertanyakan penutupan akses secara sepihak.

Selain itu, warga pada umumnya menyatakan bahwa aspal di Lorong Budidaya tidak pernah diketahui memiliki surat hibah secara jelas kepada pihak tertentu. Oleh karena itu, sebagian warga menyatakan siap melakukan tindakan saling memasang pagar apabila polemik ini tidak diselesaikan hingga 10 Februari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk protes warga atas penutupan akses jalan.
Warga juga berpendapat bahwa sekalipun suatu lahan diklaim sebagai milik pribadi, tindakan yang berdampak pada kepentingan fasilitas umum tidak seharusnya dilakukan sepihak dan semestinya melalui mekanisme hukum yang jelas.

Hingga kini, situasi di Lorong Budidaya disebut semakin tegang. Warga menyatakan siap melakukan aksi demonstrasi secara berkelanjutan apabila persoalan ini tidak segera diselesaikan. Masyarakat khawatir, tanpa langkah cepat dari pihak terkait, ketegangan di lapangan dapat berkembang menjadi konflik terbuka yang sulit dikendalikan.(FB)

Pos terkait