FAKTA SAROLANGUN –
Oleh: Elas Anra Dermawan, SH
Advokat & Founder LBH NADI
Pembangunan Batang Asai oleh Pemerintah Provinsi Jambi tidak bisa dilihat sekadar sebagai proyek infrastruktur biasa. Lebih dari itu, pembangunan ini memiliki makna politik pembangunan yang sangat dalam: sebuah upaya membayar hutang sejarah kepada wilayah yang selama puluhan tahun berada di pinggiran perhatian pembangunan.
Batang Asai bukanlah daerah biasa. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki jejak sejarah perjuangan masyarakat Jambi, termasuk daerah yang melahirkan tokoh-tokoh pejuang seperti Kolonel Abundjani. Namun ironisnya, selama bertahun-tahun Batang Asai justru identik dengan keterisolasian: jalan rusak, akses ekonomi terbatas, dan ketimpangan pembangunan yang nyata dibandingkan wilayah lain di Provinsi Jambi.
Karena itu, ketika pemerintah provinsi mulai membangun akses jalan, membuka konektivitas wilayah, serta mendorong pembangunan irigasi dan infrastruktur dasar di Batang Asai, langkah tersebut harus dibaca sebagai koreksi atas ketidakadilan pembangunan yang berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam perspektif politik pembangunan, infrastruktur adalah simbol kehadiran negara. Ketika jalan dibangun, maka negara sebenarnya sedang membuka pintu bagi pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan mobilitas sosial masyarakat. Sebaliknya, ketika sebuah wilayah dibiarkan terisolasi terlalu lama, maka yang terjadi adalah ketimpangan struktural yang perlahan melahirkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara.
Karena itu, pembangunan Batang Asai hari ini harus dipahami sebagai balas budi terhadap daerah pahlawan Jambi. Ini bukan sekadar proyek aspal dan beton, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan pengakuan terhadap kontribusi masyarakat pedalaman dalam perjalanan daerah ini.
Namun demikian, pembangunan ini tidak boleh berhenti pada simbol politik semata. Pemerintah harus memastikan bahwa pembangunan Batang Asai benar-benar berkelanjutan: jalan harus terawat, ekonomi lokal harus tumbuh, dan masyarakat harus merasakan manfaat nyata dari kebijakan tersebut.
Jika pembangunan Batang Asai berhasil membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya, maka sejarah akan mencatat bahwa Jambi akhirnya tidak melupakan daerah yang pernah menjadi bagian dari denyut perjuangannya.
Pada akhirnya, membangun Batang Asai bukan hanya soal membuka jalan di pedalaman.
Ini adalah soal membuka kembali keadilan pembangunan bagi tanah para pejuang Jambi.






