Soal Pedagang Kali Lima Walikota Maulana diingatkan Jangan Arogan

Gambar : Dr.Dedek

FAKTA JAMBI – Kembali Dr. Dedek Kusnadi, S.Sos, M.Si, MM, seorang akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) STS Jambi, memberikan peringatan tegas kepada Walikota Maulana terkait penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kota Jambi. Dalam pernyataannya, Dr. Dedek menekankan pentingnya melakukan penertiban secara humanis, dengan pendekatan persuasif dan tanpa sikap arogan.

“Satu saja pedagang yang kena usir secara tidak manusiawi, saya pastikan anda tercatat sebagai Walikota terarogan dalam sejarah kota Jambi,” ungkapnya dengan tegas. Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan Dr. Dedek terhadap potensi dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh penertiban yang tidak memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan.

Bacaan Lainnya

Dr. Dedek menjelaskan bahwa penertiban PKL tidak harus dilakukan dengan cara represif atau kekerasan. Sebaliknya, pendekatan personal dan persuasif kepada para pedagang lebih efektif dalam menciptakan kesadaran dan kepatuhan terhadap aturan. “Komunikasi yang efektif antara pemerintah, PKL, dan masyarakat sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman dan menciptakan dukungan dari masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dr. Dedek menekankan perlunya pemerintah menyediakan lokasi yang layak untuk PKL, seperti pasar tradisional atau lokasi yang diizinkan. Hal ini penting agar PKL tetap dapat berusaha tanpa mengganggu ketertiban kota. Selain itu, pemberdayaan PKL melalui pelatihan atau pembinaan juga menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas usaha mereka, sehingga dapat lebih tertib dan profesional dalam menjalankan usaha.

Terakhir Dr. Dedek mengingatkan bahwa Satpol PP harus tetap menjaga wibawa, namun dengan pendekatan persuasif dan komunikasi yang baik. “Dengan cara ini, penertiban PKL dapat dilakukan tanpa menimbulkan konflik dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” tutupnya.

Peringatan ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi pemerintah kota Jambi dalam menjalankan kebijakan penertiban yang lebih manusiawi dan berkeadilan.

(Ari Widodo)

Pos terkait